Posted by : An Rica Airizta Senin, 10 Maret 2014



Aku punya seorang teman, namanya Airiz Nizrita. Temanku ini begitu unik, dia sangat sabar ketika menghadapi orang-orang di sekelilingnya. Kadang, aku merasa aneh jika melihat dia hanya tersenyum ketika dia tahu bahwa dia telah dmanfaatkan dan dibodohi oleh orang lain.
Waktu itu aku melihatnya seperti sedang bersama kekasihnya. Kekasihnya cukup tampan kukira. Dan kelihatannya Airiz bahagia. Sampai suatu ketika aku melihatnya sedang merenung dan terlihat seperti menangis.
Aku menghampirinya, “Airiz, kamu sedang apa di tempat seperti ini ?”
Dengan cepat ia mengusap dan membersihkan bekas air matanya yang mengering. Sambil tersenyum dia berkata padaku, “Eh, Kamu ! Aku Gapapa kok ! Lagian kamu sendiri ngapain ke sini ?” tanyanya.
“Dari tadi aku mencarimu ! aku mengkhawatirkan kamu ! kamu bilang gapapa, tapi kamu menangis ? dasar aneh !” ujarku padanya.
Airiz meraih tanganku, dan memberikan sesuatu padaku. Setangkai bunga Mawar,tapi warnanya bukan warna yang biasa aku lihat di tempat bunga bunga, Warnanya HITAM.
“Mawar Hitam ? Buat apa kamu kasih ke aku Riz ?” tanyaku.
“Sudahlah simpan saja..” Ia tersenyum.
“Apa aku boleh bercerita sesuatu padamu ?” tanya Airiz.
“Ceritalah !” jawabku.
“Aku punya masalah yang sangat berat sebenarnya, di sini,” ujarnya dengan menunjuk ke arah hatinya.
“Selama ini aku tidak pernah mempunyai orang yang dapat menampung ceritaku dengan baik dan memberikan saran yang bisa aku lakukan sendiri..” lanjutnya.
“Aku selalu merasa bersalah atas diriku sendiri, merasa bersalah dengan kesalahan orang lain, bahkan aku berpikir kalau aku dilahirkan di dunia ini itu hanya membawa bencana..” terlihat olehku air mata yang ia tahan akhirnya tak terbendung juga.
“Airiz, kalau kamu ingin menangis menangislah ! jangan kamu tutupi..” ucapku.
“Aku gak bisa melakukan itu ! kalau seseorang melihatku menangis seperti ini mereka pasti tak akan ada yang peduli !” Serunya dengan nada emosi.
Aku lihat dia begitu marah, emosi. Mungkin dalam air matanya dia menyimpan banyak sekali amarah yang tidak bisa ia jelaskan satu persatu. Aku melihat dia yang menangis sambil memegang dadanya, terlihat sesak yang ia tahan sampai suara tangisannya terisak-isak.
“Airiz.. Sebenarnya masalah apa yang kamu pendam sampai kamu menahan tangisanmu seperti itu ? apa ini ada hubungannya dengan kekasihmu ? atau yang lain ?” tanyaku.
“Semua..” jawabnya singkat, secarik kertas ia keluarkan dari dalam tas yang ia taruh di sebelahnya. Lalu ia memberikan kertas itu kepadaku.
“Apa lagi ini Airiz ?” tanyaku penasaran.
“Buka saja...” perintahnya.
Kubuka perlahan kertas tersebut, terlihat ada tulisan. Kubaca satu persatu kalimat-kalimat yang tertulis. Kutarik kesimpulan, kertas ini adalah hasil tes laboratorium. Tertulis di kertas tersebut “POSITIF”, kulanjutkan membacaku dan lagi kutarik kesimpulan bahwa sepertinya temanku ini mengidap penyakit yang entah akut atau parah.
“Kamu sakit apa Airiz ?” tanyaku.
“LEUKIMIA” jawabnya singkat.
“orang tuamu tahu mengenai ini ?” tanyaku lagi.
Dia hanya menggelengkan kepala dan kembali tersenyum padaku. Kepalanya diangkat menghadap langit yang sedang cerah waktu itu. Aku hanya tertegun heran menatap tingkah dari sahabatku ini.
“Selama aku masih bisa bernafas, aku akan berusaha untuk terus tersenyum di hadapan semua orang, tak terkecuali kamu.” Ucapnya dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kamu bisa tersenyum seperti itu, tapi kenapa kamu masih bisa menangis sampai terisak-isak seperti tadi ?” tanyaku.
“Semua orang pasti mempunyai batas kesabaran yang ia buat sendiri-sendiri, aku ketika marah hanya bisa menangis sendirian di sini.” Jawabnya.
“lalu kamu marah pada siapa sebenarnya ? sampai tangisanmu terasa mencekik lehermu dengan kuat, sampai sampai kamu sudah tak dapat lagi mengeluarkan nafasmu secara bebas ? apa itu tidak berakibat buruk terhadap kesehatan jiwa dan dirimu ?” cecarku.
“Perlu kamu tau, kondisi psikologiku telah bobrok sejak awal, orang normal pasti tak akan pernah kuat seperti aku sekarang ini. Aku kuat seperti ini karena kekuatan dendam dan kemarahan bukan karena semangat !” jawabnya lantang dan penuh emosi.
Jadi aku berkesimpulan, kalau hidup dari sahabatku ini sudah sejak lama menderita batin tapi dia tak pernah mau mengungkapkannya, bahkan kepada kekasihnya sendiri.
“tapi bukankah kekasihmu itu orang yang pengertian ?” tanyaku.
“.....” Airiz hanya diam, kemudian ia menggelengkan kepala seraya berkata tidak, ia menghela nafas panjang dan tersenyum sembari menatap langit.
Air matanya menetes satu demi satu, mengalir indah dari matanya melewati pipinya. Lama kelamaan tangisnya mulai terisak-isak kembali seperti pertama aku melihatnya menangis tadi. Kasihan Airiz, kurasa tekanan batinnya sudah mencapai batasnya.
Ragu-ragu kuulurkan tanganku untuk meraih bahunya, kuraih bahunya, kupeluk dia yang sedang menangis, terdengar tangisnya semakin keras, kencang dan menjadi-jadi. Tanpa sadar tangisanku pun ikut jatuh dan membasahi wajahku yang tadinya kering.
“Airiz, kenapa penderitaanmu begitu berat ? tak adakah satu orangpun yang dapat mengerti akan keadaanmu ? apa kekasihmu tak memberikanmu ketenangan hati yang selama ini kamu dambakan di dunia fana ini ?” tanyaku beruntun dengan menangis merasakan apa yang Airiz rasakan.
“Jujur saja, rasanya kekasihku itu hanya ingin menuntutku menjadi yang ia mau, mungkin niatnya baik, tapi saran yang ia berikan padaku saat ini hanya akan menambah hidupku semakin berat !” cecarnya.
“Aku hanya menjadi bahan kesalahan bagi orang lain, menjadi kambing hitam bagi orang lain. Apa memang seharusnya aku tak perlu dilahirkan ?” ujar Airiz.
“Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu ?” Tanyaku.
“Kurasa aku hanya membawa penyesalan dan penderitaan bagi orang lain yang dekat denganku. Maka lebih baik mungkin jika aku yang pergi dari kehidupan mereka.” Jawabnya.
“maafkan aku Airiz, bukan aku tak mau menjawab pertayaanmu itu, susah untukku menjawab pertanyaan darimu. Aku tak bisa sepenuhnya merasakan apa yang kamu rasakan sahabatku, karena aku tak mengalaminya.” Jawabku sekenanya.
“Sobatku, jangan pernah kamu berharap merasakan apa yang aku rasakan, sakit !” ujar Airiz.
“Hanya Sakit yang bisa kamu rasakan jika kamu mengalami hal yang sama ! seakan akan, duri yang sangat tajam, runcing dan tipis membelah jantungmu, pisau, pedang semua menghujam jantungmu, sampai mengiris, membelah, mencabik cabik isi hatimu menjadi berkeping keping” ungkap apa yang ia rasakan selama ini.
“itukah rasanya menjadi dirimu Airiz ?” tanyaku.
“kurang lebih, seperti itu.” Jawabnya.
“Aku hanya heran, mengapa kamu masih bisa sempat tersenyum di hadapan orang lain, bahkan yang membenci ataupun yang kau benci ?” tanyaku lagi.
“aku hanya tak mau memperlihatkan kepada siapapun mengenai ini, jika yang aku rasakan bisa sesakit ini tanpa tersenyum, mungkin orang yang melihatku sedih atau tersiksa pun akan merasakan hal yang sama.” Jawabnya seraya menegarkan dirinya.
Aku hanya diam dan menganggap bahwa Airiz adalah orang yang benar-benar kuat. Kulihat ia menghapus air matanya, mencoba mengembalikan lagi senyumannya, ia berdiri dengan tubuh yang terlihat sedikit lemas karena keilangan tenaga setelah menangis. Akhirnya ia berdiri, tapi tiba-tiba ia pingsan dan membuatku panik.
“Airiz ! Airiz !!”

To be Continued...

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © An Rica Airizta - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -