Posted by : An Rica Airizta Senin, 10 Maret 2014



Kutangkap sembelum tubuhnya hendak menyentuh tanah. Sekuat tenaga kubopong tubuhnya dan meninggalkan barang-barang kami di tempat itu. Kubawa ia ke ruang UKS yang kebetulan sedang sepi waktu itu. Hanya ada seorang dokter jaga yang langsung sigap membantuku untuk mengangkat Airiz ke atas tempat tidur.
“Dok, bisakah anda menjaga temanku ini untuk beberapa saat ? tadi banyak barang kami yang ketinggalan, saya akan kembali lagi dalam beberapa menit.” Ujarku kepada dokter UKS itu.
“Iya. Silahkan, sementara itu saya akan memeriksa keadaan temanmu ini ya !” Jawab Dokter itu menenangkan aku yang sedang terengah-engah dan kelelahan.
Akupun bergegas meninggalkan ruangan UKS itu, dengan sisa tenagaku tadi, aku berlari secepat yang aku bisa untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di tempat kami nongkrong tadi. Sesampainya aku di sana, kulihat ada seseorang yang duduk dan menyentuh barang-barang kami. Kuhampiri dia, ternyata dia adalah Torimatsu, kekasih Airiz.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini ?!” tanyaku.
“Aku telah memperhatikan kalian berdua dari tadi.” Jawabnya datar.
Aku hanya bisa berkata dalam hati.
“kalau dia melihat kami, mengapa ketika Airiz tadi tumbang dia tidak segera menolong ?!” batinku berkecamuk.
“kau pasti bertanya-tanya kan kenapa aku tidak segera menolong Airiz yang tumbang tadi ?” sautnya.
“Ah..!” bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan ?!
“Kulihat kamu begitu perhatian pada kekasihku satu itu, diapun sebaliknya, setiap kali bertemu, hanya kau, kau, dan kau saja yang ada dalam ceritanya. Dia bilang kau baik, teman yang peduli, perhatian dan hal-hal yang baik tertuju padamu.” Katanya.
“Kau berkata itu kepadaku maksudmu apa ? Atau jangan-jangan kau cemburu karena kau tidak bisa memberikan apa yang Airiz sebenarnya butuhkan ?!” kujebak dia dengan pertanyaanku itu.
“kau hanya bisa menuntut, menuntut dan menuntut kepadanya. Bahkan kau tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya !” bentak ku.
“Aku tahu ! lebih dari yang kau tahu !” sahutnya kasar.
Aku yang berdiri menatapnya itu akhirnya hanya bisa menjadi patung mendengarkan perkataannya tadi. Kemudian kulihat ada setetes air mata yang menetes dari kepalanya yang tertunduk itu.

To be Continued...

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © An Rica Airizta - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -